Facebook Twitter Gplus E-mail RSS
formats

Jalan-jalan ke Museum De Mata :D

UP4

Kata orang, ada trick eye museum di Jogja, katanya. Nah, kami (baca: temen-temen MP) nyobain main kesana. Siapa tau “kata orang”nya itu cuma boong. Siapa tau ternyata cuma museum biasa pake wallpaper di dinding. Siapa tau sepi banget pengunjungnya. Siapa tau emang mahal biaya masuknya. Hahaha :D Ternyata emang iya bener semuanya. Tapi eits, baca dulu. Jangan terlalu cepat menyimpulkan.

Hari Minggu, tanggal 13 April 2104.

Nah, rencananya, kami berangkat pukul 9 pagi. Tapi karena beberapa alasan: Sang Pawang (yang ngajak main) belum datang, dan pertandingan basket di hall gelanggang seru banget (yang main cakep-cakep), maka dari itu molor sampe jam 11. Seperti biasa, jam-jam segitu adalah jam-jam matahari mulai terasa panas. Tapi panasnya hari itu tidak menyurutkan semangat kami buat pergi maen. Jadilah kami pergi beramai-ramai. Nggak cuma kolat UGM loh yang pergi maen, tapi sama temen-temen dari kolat UII juga.

Museum ini bernama Museum De MATA. Letaknya di basement XT Square, Jalan Veteran, Yogyakarta. Kami sampai di museum sebelum dhuhur. Sesaat setelah beberapa orang di antara kami sampai di depan museum, hujan turun rintik-rintik. Alhamdulillaaah :D Setidaknya hujan mampu sedikit meluruhkan gerahnya menunggu teman-teman yang belum sampai.

Setelah kami sudah sampai semua, kami segera mengumpulkan uang-uang untuk biaya masuk. Mahal, meen… 35ribu per orang :v Padahal Sang Pawang bilang kalau biaya masuknya 25ribu. Tapi ternyata info yang didapat Sang Pawang belum lengkap untuk disampaikan kepada kami. Ternyata 25ribu itu biaya masuk di hari Senin s.d Kamis pukul 10.00-15.00. Sedangkan kunjungan di waktu lain, bayarnya 35ribu. Museum ini buka setiap hari dari pukul 10.00 s.d 22.00 WIB. Untuk hari libur nasional, bayarnya tetap 35ribu meski itu di jam yang sama dengan yang bayarnya 25ribu. Nah, bagi yang ulang tahun pada hari kunjungan, bisa masuk ke museum gratiiiiss :D Tapi sayangnya tidak ada di antara kami yang berulang tahun di hari itu.

Setelah punya tiket masuk, kami pun segera masuk ke dalam museum. Satu hal yang ada di otakku kenapa aku ingin cepat-cepat masuk, aku pengen ngadeeem.. hahaha :D Di luar panas soalnya :p

Up21

Di ruangan pertama, kami disuguhi pemandangan gunung api purba dan prambanan. Di depannya, ada dua buah kursi bolong yang masing-masing ada boneka berbentuk kaki laki-laki dan kaki perempuan. Jadi kami bisa foto pura-puranya itu adalah kaki kami. Menurutku, ini garing. Tapi ternyata temen-temenku semua antusias bahkan ada yang sampai terkekeh-kekeh melihat salah seorang laki-laki di antara kami berfoto dengan boneka kaki perempuan. Hahaha :D aku malah ketawa lihat semua orang yang tertawa dengan wajah lucunya masing-masing.

Lanjut, di ruangan berikutnya, gambar yang disajikan sudah mulai banyak. Idenya pun bermacam-macam. Ada yang pura-puranya kami ada di tembok besar Cina, ada yang pura-puranya kami lagi manjat pohon tebu bareng panda, ada yang pura-puranya kami lagi manjat tebing, dan lain-lain. Semuanya menikmati acara foto-foto ini dengan bermacam-macam pose dan mimik muka.

Museum ini hanya berisikan wallpaper yang ditempel di dinding, namun ternyata, apabila kami melihat dari hasil foto, kami akan melihat bahwa gambar-gambar ini 3 dimensi. Ini menyenangkan. :D Aku pun mulai asyik berputar-putar melihat bermacam-macam gambar yang ada. Menebak-nebak kira-kira apa yang pembuat ide ingin sampaikan ke kami. Aku pun mulai menilai-nilai banyak gambar. Mana yang menurutku paling menarik idenya. Teman-teman yang lain asyik berfoto ria (memang museum ini ditujukan untuk foto-foto), sedangkan aku—yang notabenenya tidak pernah bagus kalo di kamera—lebih asyik melihat-lihat, berpikir kira-kira bagaimana pembuat ide bisa mendapatkan ide semacam itu.

Ide terbaik (menurutku) jatuh kepada sebuah gambar smartphone yang di dalamnya ada pemain arung jeram. Nah, orang yang berfoto di situ, akan menampilkan cerita bahwa orang yang difoto sedang menumpahkan gambar di dalam smartphone itu, sehingga airnya tumpah keluar smartphone. Wow, ini benar-benar trick eye :D Pokoknya di sini selain bisa menyalurkan kreativitas kita dalam berpose, kita juga bisa melihat ide-ide kreatif :) Pokoknya di sini kita bisa ketawa sepuasnya laah :D melihat aksi-aksi konyol dari teman-teman.

Setelah sudah cukup banyak mengambil foto, kami sholat dhuhur di mushola yang ada di dalam XT Square. Mushola di sini cukup bagus, mukenanya juga bersih :D Jadilah kami betah berlama-lama di mushola.

Karena tiket masuk museum berlaku dalam sehari (bisa sepuasnya masuk), maka kami masuk lagi. Kami foto-foto lagi di dalam. Di dalam ada sebuah gerobak angkringan yang menjual aneka jajanan yang biasanya ada di angkringan Jogja. Tidak hanya sekedar untuk dipajang, namun juga bisa dibeli dan dimakan :p haha. Tentu saja, kami foto-foto juga di sini.

Setelah capek bernarsis ria, kami menutup acara jalan-jalan kami hari ini dengan makan bersama di sebuah warung bakso di daerah Taman Siswa.

Pokoknya hanya ada canda tawa deh kalo udah kumpul sama temen-temen Merpati Putih :) . Jadi, hal yang paling aku syukuri saat ini adalah aku sehat dan aku ikut Merpati Putih :) .    Berniat bergabung dengan keindahan kekeluargaan kami??? :) .

[Arina Hasanah]

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Dolan Ning Dieng

 UP2

Weekend?? Ngapain ya??

Kalo aku sih Dolan. Ya,, dolan ning Dieng, itu kegiatan yang kami pilih untuk mengisi akhir pekan kali ini, Sabtu 5 April 2014. Pagi nan cerah itu, kami ber-sembilan (Mas Faiq, Mas Habib, Mas Oni, Adi, Budi, Ica, Fitri, Nining, dan Aku) mengisi akhir minggu ini untuk mengunjungi  kota asal carica dan tempat Telaga Warna bersembunyi. Setelah semua berkumpul dan siap untuk berangkat, kami meninggalkan Kota Gudeg ini pukul 8 pagi mengarungi lalu lintas yang cukup padat menuju Kota Carica. Sepanjang perjalanan kami diwarnai kegiatan kampanye suatu partai yang memiliki warna merah sebagai warna utamanya. Ramai, berisik, riuh, dan debu itu yang kami lihat. Ada pula di tengah perjalanan kami, pertai tersebut membagikan sesuatu untuk menarik perhatian masyarakat sekitar.

Yuk lanjuut,, setelah melewati beberapa keramaian, sampai juga kami pada daerah yang bisa dibilang suhu udaranya sudah berbeda dari daerah-daerah sebelumnya, di sini lebih sejuk. Tak terasa kami telah sampai di Kota Wonosobo. Kemudian kami menyusuri jalan yang semula lebar, ramai hingga jalanan yang sempit dan sepi, kami menelusuri jalan itu, hingga kami tersadar bahwa jalan yang dilalui mungkin keliru, lalu kami bertanya pada penduduk setempat, dan ternyata benar, kami salah jalan. Haha :D setelah kami putar balik, kami mengambil jalan lain, lalu sampailah kita pada kawasan hutan Jumprit, suatu tempat dimana pohon-pohon di sana berwarna jingga. Pokok’e indah lah :D .

Rasa penasaran akan keindahan alam lainnya, kami pun beranjak meninggalkan tempat itu. Lalu tibalah kami di Tambi, suatu tempat perkebunan teh yang luaaaaas banget :D . Ketika kami memutar pandangan yang ada hanya barisan bukit menjulang dan perkebunan teh yang luasnya berhektar-hektar. Tak lama kemudian kabut pun mulai turun, dan terdengar suara adzan tanda sudah masuk waktu dzuhur. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju tempat yang kami tuju sebenarnya.

Setelah melewati jalanan yang subhanAllah indah banget, bukit menjulang tampak megahnya, dengan jurang yang sangat dalam di bawahnya, sempat membuat fantasiku berkeliaran, akankah sebenarnya di jurang itu ada Harry Potter yang sedang mengejar Quiditch  atau seandainya aku punya sayap aku ingin terbang melintasi bukit-bukit nan megah itu dan menyusup masuk hutan rimbunya serta terjun ke jurang gelap itu dan akan kutemukan hal baru di dalamnya. Maaf… Aku membawa kalian ke dunia fantasiku. Tak lama kemudian, kami tiba di gerbang Dieng Plateau. Tanpa mencari, kami sudah disambut dengan segarnya sirup Carica. Eeemmm…Yummy :D

Hari sudah siang, jam menunjukkan pukul 2 siang, namun, keadaan di sini masih seperti pukul 7 pagi. Dan brrrrr,,, saat kami mengambil air wudhu untuk melakukan sholat dhuhur. Segar kembali rasanya,setelah tadi kita melewati perjalanan yang cukup jauh. Kemudian kami melanjutkan perjalanan untuk membeli sekedar buah tangan untuk kami bawa pulang kembali ke Kota Gudeg. Kenapa beli oleh-oleh dulu? Karena kami takut kami pulang terlalu malam dan nanti pulangnya kami tidak dapat beli oleh-oleh hehe :D .

UP3

Ok, kunjungan pertama kami ke Candi Arjuna (katanya sih ada Telletubbiesnya). Setelah membeli tiket Rp 10.000,-/orang kami masuk ke kawasan Candi Arjuna, dan benar ada Telletubbiesnya lhoo.. sayangnya mungkin mereka mulai lelah, jadi kostum mereka pun di lepas. Setelah meletakkan tas di tempat teduh, kami ganti seragam untuk mengambil beberapa gambar. Dan Surprise… ada seorang yang menyapa kami “Merpati Putih ya Mas?” sontak kami menjawab “Iya Mas”. Beliau ramah, badannya kekar, keren, manis pula, dan mukanya seperti Orang Jabar (menurutku). Dan benar saja, tak lama beliau mengenalkan dirinya “Saya dari perguruan Harimau Siliwangi, Jawa Barat, Saya sebenarnya  gurunya , hehehe, Ya sudah silakan dilanjutkan, kami ke sana dulu”. Setelah beberapa menit kami mengambil gambar dan hendak melanjutkan perjalanan, Pak Asep (begitu namanya) kembali menyapa kami untuk minta foto bersama dengan kami. Setelah berbincang, Pak Asep mengajak sharing teknik bersama dua rekan kami, mas Faiq dan mas Habib. WOW … Kereen.. hal ini membuat kami yang melihat kagum, bagi kami, pesilat darimana pun bila bertemu dengan pesilat lainnya sebaiknya seperti ini, bagai bertemu dengan saudara jauh dan mungkin bisa juga sharing teknik untuk menambah wawasan kita mengenai pencak silat lainnya. Hal ini membuat kami makin cinta dengan beladiri asli Indonesia ini.

Tak terasa hari semakin sore, membuat kami untuk mengakhiri pertemuan ini. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Telaga Warna. Setelah membeli tiket seharga Rp 2.000/orang, kami bisa menikmati eksotiknya Telaga Warna yang saat itu berwarna hijau tosca. Bau belerang yang menyengat menemani kami. Lalu kami mengambil beberapa gambar di tempat itu. Setelah itu, kami menuju ke Telaga Pengilon, pantas saja namanya “Pengilon” di sini telaganya bening, jernih,tak berbau belerang, dan airnya mungkin bisa dipakai untuk bercermin, padahal letaknya bersebelahan dengan Telaga Warna, subhanAllah,, :D . Kabut mulai turun dan hari pun mulai petang. Membuat kami beranjak pulang.

Baru saja kami turun kabut tebal sudah menghalangi penglihatan kami. Jarak pandang hanya sekitar 5 meter ditambah lagi hujan deras dan hari semakin petang. Perlu kewaspadaan tinggi dalam mengendarai , karena lengah sedikit saja tergelincir kita ke jurang atau bisa jadi menabrak kendaraan lain karena jarak pandang yang terbatas. Di tengah perjalanan yang menegangkan tadi , ada keramaian, sesuatu pasti sedang terjadi, dan benar saja, ternyata ada mobil mogok di tengah jalan menanjak yang membuat antrian panjang di kedua sisi jalan, untung kami menggunakan sepeda motor,jadi dengan pelan-pelan kami melewati mereka, ada beberapa bapak-bapak yang sedang mendorong mobil itu ke tepi, muncul perasaan prihatin pula, tapi apa daya kami tak dapat membantu banyak. Setelah sampai bawah, hujan pun mereda, dan perut kami pun tak dapat dikompromi lagi, karena dari siang tadi kami belum makan. Di tengah perjalanan, kami berhenti di sebuah warung Mie Ongklok (Mie khas Wonosobo) hmmm yummy :D  mie-nya enak, mbknya yang jual pun manis, kami pun rehat agak lama di tempat makan itu. Setelah waktu menunjukkan pukul setengah 9 malam, kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Kota Gudeg.

Pada perjalanan pulang kami tidak melewati kota Temanggung, kami mencari jalan yang kami pikir  lebih cepat sampai. Namun, setelah mengarungi jalan yang berkelok-kelok, agak rusak, tak ada penerangan, dan yang melintas hanya kendaraan yang kami gunakan dan sesekali truck, kami pun dengan keadaan kondisi yang sudah lelah merasa ini jalan tak berujung. Setelah beberapa jam kami melewati jalan tak berujung itu, kami pun tiba di sebuah peradaban, mulai ada kendaraan selain kendaraan kami, mulai banyak lampu menghiasi kota. Lalu kami mempercepat laju kendaraan kami, hingga tibalah kami di sekre Merpati Putih UGM pukul 11 malam. Rasa lelah dan kantuk pun membuat beberapa dari kami tertidur si sekre tercinta.

Sekian dulu ya Weekend Ceria kami… :D
Ku yakin weekend kalian tak kalah serunya dengan kami.

[Silviana]

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Sepenggal kisah dari Pembajaan MP Cabang Sleman

Pembajaan

Siang yang terik ini, tak menghambat langkah kaki para peserta UKT tingkat Balik II yang naik tingkat menjadi tingkat Kombinasi I untuk berangkat menuju Siluk. Yah, walaupun aku tak tau dimana letak Siluk itu, karena aku pun baru menginjakkan kaki untuk menuju tingkat lebih tinggi Balik II. Hehe…

Deru kendaraan bermotor mengiringi perjalanan kami menuju Padepokan Merpati Putih di Parang Kusumo,Kretek,Bantul. Sesampainya di tempat tujuan, kami mengawali kegiatan dengan upacara pembukaan, lalu tabur bunga di Kali Opak dan melintasi Gunung Botak. Tabur bunga di Kali Opak mengingatkan kami betapa heroik mas-mas yang telah mendahului kami, terbesit dalam benak ini rasa sedih dan bangga, entah apa yang akan ku perbuat jika aku berada pada masa itu.

Lalu, kami melanjutkan perjalanan melintasi Gunung Botak. Eits… tunggu dulu, bagi tingkat Balik I ke Balik II ada rangkaian acara yaitu tapak bisu, selama perjalanan mereka hanya boleh berbicara pada diri sendiri, ya hal ini tentunya dilakukan untuk melatih kesabaran anggota Merpati Putih. Canda tawa dan geguyonan kecil mengiringi perjalanan kami melintasi Gunung Botak, walaupun teman-teman tingkat Balik I hanya bisa terdiam mendengarkan gelak tawa dan guyonan mereka. Selesai melintasi Gunung Botak, selanjutnya acara Jamasan yaitu membasuh tangan, muka ,dan kepala.

Kemudian menjelang malam, kami menghantar matahari terbenam dengan merefleksikan apa yang telah kita lakukan di masa lalu sampai detik ini. Acara demi acara telah kita lalui, keesokan paginya kita menyambut matahari terbit dengan merefleksikan siapa diri kita saat ini dan apa yang akan kita lakukan ke depannya. Deburan ombak Samudera Hindia seolah menyambut riang gelak tawa dan rasa senangnya hati ini ketika latihan bersama di pantai. Kemudian acara yang paling ditunggu-tunggu, yaitu pengambilan sabuk. Tentulah ini acara yang paling ditunggu-tunggu oleh semua peserta Pembajaan, karena dengan melakukan rangkaian acara pengambilan sabuk maka resmilah kita berada di tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya dengan hak dan kewajiban yang baru.

Teriknya Sang Surya tak menjadi hambatan teman-teman tingkat Dasar I dalam memperebutkan sabuk, mulai dari merayap,berlari,berputar,dan sampai akhirnya mendapatkan sabuk merah. Begitupun untuk tingkat Dasar II dan Balik I. Setelah seluruh rangkaian acara usai, dilanjutkan pelantikan strip bagi tingkat Balik II ke Kombinasi I dan penyematan strip bagi peserta UKT terbaik. Kemudian acara ditutup dengan upacara penutupan.

Ya teman-teman itulah sepenggal cerita pembajaan MP Cabang Sleman, gimana pembajaan di tempatmu?? Pasti gak kalah seru kan? ^_^

Ingat PEMBAJAAN bukan PEMBAJAKAN, karena kita di-BAJA-kan (dibuat lebih kuat lagi seperti baja) bukan di-BAJAK (karena kita bukan sawah) wkwkwkwk :D

[Silviana]

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
3 Comments  comments 
formats

Ujian Kenaikan Tingkat di Gelanggang Mahasiswa UGM

UKT

Dalam kehidupan pasti ada tujuan untuk sesuatu, proses untuk mendapatkan sesuatu dan hasil yang didapat dari tujuan. Proses ini lah yang membutuhkan waktu tidak instan harus melalui tahap-tahapan. Disinilah arti kehidupan sebenarnya untuk melakukan sesuatu harus ada tujuan yang baik begitupula tujuan mengikuti UKM Pencak Silat MERPATI PUTIH dengan tujuan agar bisa membela diri. Dengan tujuan dari diri sendirilah dan proses yang dilewati panjang dan disinilah titik terakhir sebelum mendapat hasil sempurna semua harus melewati uji dan disinilah ujian dalam latihan merpati putih untuk mengetahui seberapa besar hasil yang dihasilkan dari proses latihan yang telah dilewati maka di Merpati Putih diadakan UKT (Ujian Kenaikan Tingkat)  yang bertujuan dari hasil latihan pantaskah naik ke tingkat selanjutnya. UKT tidak lah mudah, harus serius dan bersunguh-sunguh agar mendapat hasil yang maksimal.

Di Merpati Putih Cabang Sleman ada juga yang namanya UKT untuk menguji anggota-anggota Merpati Putih se-Sleman yang dilaksanakan priode I pada 15-16 Maret  tahun 2014 di Gelanggang Mahasiswa UGM. Disinilah waktunya berjuang untuk kelulusan UKT Merpati Putih. Sama seperti ujian Ujian Nasional (UN) disini tak diperbolehkan menyontek, saling bertukar pikiran karena disini saat UKT semua peserta ujian wajib menutup mata di materi ujian gerak sehingga harus berusaha dan berjuang sendiri, maka kalau jarang atau tidak pernah latihan jangan harap bisa lulus ya ..heheheheeh .

Harus lulus UKT, ujiannya apa aja yaa..?? nah ujian yang harus dilewati yaitu ujian tulis , ujian tata gerak, ujian stamina dan power  untuk setiap tingkatan dari dasar I sampai balik II untuk setiap anggota Merpati Putih dengan tingkat kesulitan berbeda-beda. Di ujian tulis setiap pesilat Merpati Putih harus tau juga materi dan teori di Merpati Putih, di ujian tata gerak tentunya diuji kemampuan gerak dari masing-masing pesilat, di sinilah pesilat Merpati Putih diuji tata geraknya, apakah layak atau tidak. Ujian stamina dengan lari 10 km (untuk tingkat Dasar I sampai dengan Balik I) dan 15 km (untik tingkat Balik II), dan ujian power dengan mematahkan benda keras yaitu beton. Nah disini lah ciri khas UKT PPS BETAKO MERPATI PUTIH.

Setelah itu kami tinggal menunggu pengumuman hasil UKT (haaa …..), bila dinyatakan lulus maka wajib mengikuti pembajaan atau pelantikan tingkat baru ditataran Merpati Putih (yang dilaksanakan pada tgl 29-30 Maret 2014) dan tunggu crita selanjutnya ya …

Nah sekian ya cerita UKT kita Merpati Putih Sleman dan ini critaku apa crita UKT ditempatmu ….???

[Andy S. Putra]

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Berbagi Senyuman di Panti Sinar Melati 11

New folder (3)

Deru kendaraan mengiringi perjalanan kami menuju sebuah tempat di daerah ringroad utara. Mamasuki beberapa gang kecil, hingga nampak sebuah papan bertuliskan “Panti Asuhan Sinar Melati 11”.  Sebuah rumah pondokan yang terlihat bersih dan rapi tertata. Beberapa anak kecil malu-malu berlalu lalang melihat kedatangan kami.

Tak perlu waktu lama, semua sudah berkumpul di ruangan utama. Beberapa anggota Merpati Putih UGM nampak bercanda dengan beberapa anak panti asuhan. Anak-anak panti asuhan Sinar Melati 11 ini terdiri dari berbagai usia, mulai tingkat Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Kejuruan. Panti ini khusus untuk anak asuh putra. Masing-masing dari mereka terlihat rapi dengan seragam panti maupun baju kokonya.

Ramah tamah dengan pengurus panti berlangsung dengan hangat. Kunjungan Merpati Putih UGM kali ini diterima dengan tangan terbuka. Disamping berkunjungan, Merpati Putih UGM juga memberikan hiburan berupa demo, menampilkan beberapa gerakan seperti Rangkaian Gerak Praktis & Terikat, Tangkap Kunci, hingga menampilkan gerak Seni Tunggal IPSI.  Keseruan bertambah ketika beberapa anak panti yang juga telah mengikuti bela diri Tapak Suci di sekolahnya menampilkan rangkaian gerak dari beladiri tersebut. Adalah Rahmat, siswa yang masih duduk di bangku SMP ini memperlihatkan kebolehannya. Hal ini juga menunjukkan bahwa antar perguruan pencak silat saling bersaudara.

Acara semakin renyah dengan permainan game sederhana yang dikomando Mbak Pipit (anggota Merpati Putih tingkat Balik II). Seluruh kunjungan dari Merpati PutihUGM melebur dengan adek-adek di panti. Gelak tawa pun pecah ketika satu-dua dari peserta melakukan kesalahan mengucap “siap, tembak, dorr, (nama sasaran)”. Keceriaan juga terpancar dari wajah  seluruh peserta permainan. Hingga tak terasa bahwa ruangan yang cukup luas mendadak menjadi terasa lebih sempit karena permainan tupai dan pohon.

Waktu terus berjalan dan tanpa sadar hampir tiba waktu maghrib, permainan pun disudahi. Sambil menunggu menit-menit menjelang maghrib, peserta menyantap snack. Tak henti bercengkrama dengan anak-anak asuhan panti, para peserta kunjungan dari Merpati Putih UGM terlihat sangat antusias menjadi keluarga dadakan bagi mereka. Ya, semoga bukan hanya di waktu ini. Kedepan masih akan ada kunjungan-kunjungan lain sebagai kegiatan kebersamaan di luar latihan.

Hari ini, semua belajar bahwa hidup bukan hanya untuk mengejar mimpi pribadi, namun juga untuk berbagi. Berbagi kebahagiaan, berbagi senyuman, berbagi ilmu, juga mungkin materi. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

[Filzah Ikramina]

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 

Switch to our mobile site