Dolan Ning Dieng

 UP2

Weekend?? Ngapain ya??

Kalo aku sih Dolan. Ya,, dolan ning Dieng, itu kegiatan yang kami pilih untuk mengisi akhir pekan kali ini, Sabtu 5 April 2014. Pagi nan cerah itu, kami ber-sembilan (Mas Faiq, Mas Habib, Mas Oni, Adi, Budi, Ica, Fitri, Nining, dan Aku) mengisi akhir minggu ini untuk mengunjungi  kota asal carica dan tempat Telaga Warna bersembunyi. Setelah semua berkumpul dan siap untuk berangkat, kami meninggalkan Kota Gudeg ini pukul 8 pagi mengarungi lalu lintas yang cukup padat menuju Kota Carica. Sepanjang perjalanan kami diwarnai kegiatan kampanye suatu partai yang memiliki warna merah sebagai warna utamanya. Ramai, berisik, riuh, dan debu itu yang kami lihat. Ada pula di tengah perjalanan kami, pertai tersebut membagikan sesuatu untuk menarik perhatian masyarakat sekitar.

Yuk lanjuut,, setelah melewati beberapa keramaian, sampai juga kami pada daerah yang bisa dibilang suhu udaranya sudah berbeda dari daerah-daerah sebelumnya, di sini lebih sejuk. Tak terasa kami telah sampai di Kota Wonosobo. Kemudian kami menyusuri jalan yang semula lebar, ramai hingga jalanan yang sempit dan sepi, kami menelusuri jalan itu, hingga kami tersadar bahwa jalan yang dilalui mungkin keliru, lalu kami bertanya pada penduduk setempat, dan ternyata benar, kami salah jalan. Haha 😀 setelah kami putar balik, kami mengambil jalan lain, lalu sampailah kita pada kawasan hutan Jumprit, suatu tempat dimana pohon-pohon di sana berwarna jingga. Pokok’e indah lah :D.

Rasa penasaran akan keindahan alam lainnya, kami pun beranjak meninggalkan tempat itu. Lalu tibalah kami di Tambi, suatu tempat perkebunan teh yang luaaaaas banget :D. Ketika kami memutar pandangan yang ada hanya barisan bukit menjulang dan perkebunan teh yang luasnya berhektar-hektar. Tak lama kemudian kabut pun mulai turun, dan terdengar suara adzan tanda sudah masuk waktu dzuhur. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju tempat yang kami tuju sebenarnya.

Setelah melewati jalanan yang subhanAllah indah banget, bukit menjulang tampak megahnya, dengan jurang yang sangat dalam di bawahnya, sempat membuat fantasiku berkeliaran, akankah sebenarnya di jurang itu ada Harry Potter yang sedang mengejar Quiditch  atau seandainya aku punya sayap aku ingin terbang melintasi bukit-bukit nan megah itu dan menyusup masuk hutan rimbunya serta terjun ke jurang gelap itu dan akan kutemukan hal baru di dalamnya. Maaf… Aku membawa kalian ke dunia fantasiku. Tak lama kemudian, kami tiba di gerbang Dieng Plateau. Tanpa mencari, kami sudah disambut dengan segarnya sirup Carica. Eeemmm…Yummy 😀

Hari sudah siang, jam menunjukkan pukul 2 siang, namun, keadaan di sini masih seperti pukul 7 pagi. Dan brrrrr,,, saat kami mengambil air wudhu untuk melakukan sholat dhuhur. Segar kembali rasanya,setelah tadi kita melewati perjalanan yang cukup jauh. Kemudian kami melanjutkan perjalanan untuk membeli sekedar buah tangan untuk kami bawa pulang kembali ke Kota Gudeg. Kenapa beli oleh-oleh dulu? Karena kami takut kami pulang terlalu malam dan nanti pulangnya kami tidak dapat beli oleh-oleh hehe :D.

UP3

Ok, kunjungan pertama kami ke Candi Arjuna (katanya sih ada Telletubbiesnya). Setelah membeli tiket Rp 10.000,-/orang kami masuk ke kawasan Candi Arjuna, dan benar ada Telletubbiesnya lhoo.. sayangnya mungkin mereka mulai lelah, jadi kostum mereka pun di lepas. Setelah meletakkan tas di tempat teduh, kami ganti seragam untuk mengambil beberapa gambar. Dan Surprise… ada seorang yang menyapa kami “Merpati Putih ya Mas?” sontak kami menjawab “Iya Mas”. Beliau ramah, badannya kekar, keren, manis pula, dan mukanya seperti Orang Jabar (menurutku). Dan benar saja, tak lama beliau mengenalkan dirinya “Saya dari perguruan Harimau Siliwangi, Jawa Barat, Saya sebenarnya  gurunya , hehehe, Ya sudah silakan dilanjutkan, kami ke sana dulu”. Setelah beberapa menit kami mengambil gambar dan hendak melanjutkan perjalanan, Pak Asep (begitu namanya) kembali menyapa kami untuk minta foto bersama dengan kami. Setelah berbincang, Pak Asep mengajak sharing teknik bersama dua rekan kami, mas Faiq dan mas Habib. WOW … Kereen.. hal ini membuat kami yang melihat kagum, bagi kami, pesilat darimana pun bila bertemu dengan pesilat lainnya sebaiknya seperti ini, bagai bertemu dengan saudara jauh dan mungkin bisa juga sharing teknik untuk menambah wawasan kita mengenai pencak silat lainnya. Hal ini membuat kami makin cinta dengan beladiri asli Indonesia ini.

Tak terasa hari semakin sore, membuat kami untuk mengakhiri pertemuan ini. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke Telaga Warna. Setelah membeli tiket seharga Rp 2.000/orang, kami bisa menikmati eksotiknya Telaga Warna yang saat itu berwarna hijau tosca. Bau belerang yang menyengat menemani kami. Lalu kami mengambil beberapa gambar di tempat itu. Setelah itu, kami menuju ke Telaga Pengilon, pantas saja namanya “Pengilon” di sini telaganya bening, jernih,tak berbau belerang, dan airnya mungkin bisa dipakai untuk bercermin, padahal letaknya bersebelahan dengan Telaga Warna, subhanAllah,, :D. Kabut mulai turun dan hari pun mulai petang. Membuat kami beranjak pulang.

Baru saja kami turun kabut tebal sudah menghalangi penglihatan kami. Jarak pandang hanya sekitar 5 meter ditambah lagi hujan deras dan hari semakin petang. Perlu kewaspadaan tinggi dalam mengendarai , karena lengah sedikit saja tergelincir kita ke jurang atau bisa jadi menabrak kendaraan lain karena jarak pandang yang terbatas. Di tengah perjalanan yang menegangkan tadi , ada keramaian, sesuatu pasti sedang terjadi, dan benar saja, ternyata ada mobil mogok di tengah jalan menanjak yang membuat antrian panjang di kedua sisi jalan, untung kami menggunakan sepeda motor,jadi dengan pelan-pelan kami melewati mereka, ada beberapa bapak-bapak yang sedang mendorong mobil itu ke tepi, muncul perasaan prihatin pula, tapi apa daya kami tak dapat membantu banyak. Setelah sampai bawah, hujan pun mereda, dan perut kami pun tak dapat dikompromi lagi, karena dari siang tadi kami belum makan. Di tengah perjalanan, kami berhenti di sebuah warung Mie Ongklok (Mie khas Wonosobo) hmmm yummy 😀 mie-nya enak, mbknya yang jual pun manis, kami pun rehat agak lama di tempat makan itu. Setelah waktu menunjukkan pukul setengah 9 malam, kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Kota Gudeg.

Pada perjalanan pulang kami tidak melewati kota Temanggung, kami mencari jalan yang kami pikir  lebih cepat sampai. Namun, setelah mengarungi jalan yang berkelok-kelok, agak rusak, tak ada penerangan, dan yang melintas hanya kendaraan yang kami gunakan dan sesekali truck, kami pun dengan keadaan kondisi yang sudah lelah merasa ini jalan tak berujung. Setelah beberapa jam kami melewati jalan tak berujung itu, kami pun tiba di sebuah peradaban, mulai ada kendaraan selain kendaraan kami, mulai banyak lampu menghiasi kota. Lalu kami mempercepat laju kendaraan kami, hingga tibalah kami di sekre Merpati Putih UGM pukul 11 malam. Rasa lelah dan kantuk pun membuat beberapa dari kami tertidur si sekre tercinta.

Sekian dulu ya Weekend Ceria kami… 😀
Ku yakin weekend kalian tak kalah serunya dengan kami.

[Silviana]

Suka tulisan ini?

Merpati Putih UGM

MERPATI PUTIH UGM adalah salah satu dari beberapa kolat yang terdapat di cabang Sleman. Sekretariat kami berada di Gelanggang Mahasiswa UGM. Dengan kolat UPN, UII, ATMAJAYA, dan MAN 3, dll, kolat UGM selalu bekerja sama dalam menyelanggarakan berbagai event silat ataupun kegiatan yang lain.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

Merpati Putih Kolat UGM