Jalan-jalan ke Museum De Mata :D

UP4

Kata orang, ada trick eye museum di Jogja, katanya. Nah, kami (baca: temen-temen MP) nyobain main kesana. Siapa tau “kata orang”nya itu cuma boong. Siapa tau ternyata cuma museum biasa pake wallpaper di dinding. Siapa tau sepi banget pengunjungnya. Siapa tau emang mahal biaya masuknya. Hahaha 😀 Ternyata emang iya bener semuanya. Tapi eits, baca dulu. Jangan terlalu cepat menyimpulkan.

Hari Minggu, tanggal 13 April 2104.

Nah, rencananya, kami berangkat pukul 9 pagi. Tapi karena beberapa alasan: Sang Pawang (yang ngajak main) belum datang, dan pertandingan basket di hall gelanggang seru banget (yang main cakep-cakep), maka dari itu molor sampe jam 11. Seperti biasa, jam-jam segitu adalah jam-jam matahari mulai terasa panas. Tapi panasnya hari itu tidak menyurutkan semangat kami buat pergi maen. Jadilah kami pergi beramai-ramai. Nggak cuma kolat UGM loh yang pergi maen, tapi sama temen-temen dari kolat UII juga.

Museum ini bernama Museum De MATA. Letaknya di basement XT Square, Jalan Veteran, Yogyakarta. Kami sampai di museum sebelum dhuhur. Sesaat setelah beberapa orang di antara kami sampai di depan museum, hujan turun rintik-rintik. Alhamdulillaaah 😀 Setidaknya hujan mampu sedikit meluruhkan gerahnya menunggu teman-teman yang belum sampai.

Setelah kami sudah sampai semua, kami segera mengumpulkan uang-uang untuk biaya masuk. Mahal, meen… 35ribu per orang :v Padahal Sang Pawang bilang kalau biaya masuknya 25ribu. Tapi ternyata info yang didapat Sang Pawang belum lengkap untuk disampaikan kepada kami. Ternyata 25ribu itu biaya masuk di hari Senin s.d Kamis pukul 10.00-15.00. Sedangkan kunjungan di waktu lain, bayarnya 35ribu. Museum ini buka setiap hari dari pukul 10.00 s.d 22.00 WIB. Untuk hari libur nasional, bayarnya tetap 35ribu meski itu di jam yang sama dengan yang bayarnya 25ribu. Nah, bagi yang ulang tahun pada hari kunjungan, bisa masuk ke museum gratiiiiss 😀 Tapi sayangnya tidak ada di antara kami yang berulang tahun di hari itu.

Setelah punya tiket masuk, kami pun segera masuk ke dalam museum. Satu hal yang ada di otakku kenapa aku ingin cepat-cepat masuk, aku pengen ngadeeem.. hahaha 😀 Di luar panas soalnya :p

Up21

Di ruangan pertama, kami disuguhi pemandangan gunung api purba dan prambanan. Di depannya, ada dua buah kursi bolong yang masing-masing ada boneka berbentuk kaki laki-laki dan kaki perempuan. Jadi kami bisa foto pura-puranya itu adalah kaki kami. Menurutku, ini garing. Tapi ternyata temen-temenku semua antusias bahkan ada yang sampai terkekeh-kekeh melihat salah seorang laki-laki di antara kami berfoto dengan boneka kaki perempuan. Hahaha 😀 aku malah ketawa lihat semua orang yang tertawa dengan wajah lucunya masing-masing.

Lanjut, di ruangan berikutnya, gambar yang disajikan sudah mulai banyak. Idenya pun bermacam-macam. Ada yang pura-puranya kami ada di tembok besar Cina, ada yang pura-puranya kami lagi manjat pohon tebu bareng panda, ada yang pura-puranya kami lagi manjat tebing, dan lain-lain. Semuanya menikmati acara foto-foto ini dengan bermacam-macam pose dan mimik muka.

Museum ini hanya berisikan wallpaper yang ditempel di dinding, namun ternyata, apabila kami melihat dari hasil foto, kami akan melihat bahwa gambar-gambar ini 3 dimensi. Ini menyenangkan. 😀 Aku pun mulai asyik berputar-putar melihat bermacam-macam gambar yang ada. Menebak-nebak kira-kira apa yang pembuat ide ingin sampaikan ke kami. Aku pun mulai menilai-nilai banyak gambar. Mana yang menurutku paling menarik idenya. Teman-teman yang lain asyik berfoto ria (memang museum ini ditujukan untuk foto-foto), sedangkan aku—yang notabenenya tidak pernah bagus kalo di kamera—lebih asyik melihat-lihat, berpikir kira-kira bagaimana pembuat ide bisa mendapatkan ide semacam itu.

Ide terbaik (menurutku) jatuh kepada sebuah gambar smartphone yang di dalamnya ada pemain arung jeram. Nah, orang yang berfoto di situ, akan menampilkan cerita bahwa orang yang difoto sedang menumpahkan gambar di dalam smartphone itu, sehingga airnya tumpah keluar smartphone. Wow, ini benar-benar trick eye 😀 Pokoknya di sini selain bisa menyalurkan kreativitas kita dalam berpose, kita juga bisa melihat ide-ide kreatif 🙂 Pokoknya di sini kita bisa ketawa sepuasnya laah 😀 melihat aksi-aksi konyol dari teman-teman.

Setelah sudah cukup banyak mengambil foto, kami sholat dhuhur di mushola yang ada di dalam XT Square. Mushola di sini cukup bagus, mukenanya juga bersih 😀 Jadilah kami betah berlama-lama di mushola.

Karena tiket masuk museum berlaku dalam sehari (bisa sepuasnya masuk), maka kami masuk lagi. Kami foto-foto lagi di dalam. Di dalam ada sebuah gerobak angkringan yang menjual aneka jajanan yang biasanya ada di angkringan Jogja. Tidak hanya sekedar untuk dipajang, namun juga bisa dibeli dan dimakan :p haha. Tentu saja, kami foto-foto juga di sini.

Setelah capek bernarsis ria, kami menutup acara jalan-jalan kami hari ini dengan makan bersama di sebuah warung bakso di daerah Taman Siswa.

Pokoknya hanya ada canda tawa deh kalo udah kumpul sama temen-temen Merpati Putih :). Jadi, hal yang paling aku syukuri saat ini adalah aku sehat dan aku ikut Merpati Putih :).    Berniat bergabung dengan keindahan kekeluargaan kami??? :).

[Arina Hasanah]

Suka tulisan ini?

Merpati Putih UGM

MERPATI PUTIH UGM adalah salah satu dari beberapa kolat yang terdapat di cabang Sleman. Sekretariat kami berada di Gelanggang Mahasiswa UGM. Dengan kolat UPN, UII, ATMAJAYA, dan MAN 3, dll, kolat UGM selalu bekerja sama dalam menyelanggarakan berbagai event silat ataupun kegiatan yang lain.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

Merpati Putih Kolat UGM